Kamis, 10 Maret 2011

EFEKTIVITAS MODEL PENCAIAN KONSEP TERHADAP PEMAHAMAN KONSEP DAN KREATIVITAS MATEMATIKA SISWA KELAS X SMU NEGERI 1 BATANGKUS


BAB I


PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang Masalah

Pendidikan adalah segala situasi hidup yang mempengaruhi pertumbuhan individu sebagai pengalaman belajar yang berlangsung dalam segalah lingkungan dan sepanjang hidup. Dalam arti sempit pendidikan adalah pengajaran yang diselenggarakan umumnya disekolah sebagai. Saat ini peningkatan mutu pendidikan di lembaga pendidikan normal di Indonesia, khususnya peningkatan mutu pendidikan matematika masih terus diupayakan baik itu mulai dari tingkat pra sekolah sampai perguruan tinggi, hal ini karena sangat diyakini betul bahwa matematika merupakan sebagai ilmu dasar memegang peranan yang sangat penting dalam pengembangan sains dan teknologi, karena matematika merupakan sarana berpikir untuk menumbuh kembangkan daya nalar, cara berpikir logis, sistematis dan kritis.

Peranan matematika ini tidak hanya terasa dalam bidang matematika tetapi aplikasinya juga pada bidang lain, karena matematika sebagai ratunya ilmu sekaligus pelayan ilmu sangat dibutuhkan dalam menghadapi tantangan di era globalisasi. Seiring dengan perkembangan IPTEK, perkembangan pendidikan matematika mengalami pergeseran. Matematika merupakan pengetahuan yang esensial sebagai dasar untuk bekerja seumur hidup dalam abad globalisasi. Karena itu penguasaan tingkat tertentu terhadap matematika diperlukan bagi semua peserta didik agar kelak dalam hidupnya memungkinkan untuk mendapatkan pekerjaan yang layak karena abad globalisasi, tiada pekerjaan tanpa matematika. (Sinaga, 1999: 1)

Namun kenyataannya mutu pendidikan di Indonesia sampai saat sekarang ini masih sangat rendah dibandingkan dengan negara yang lain khususnya matematika hal ini didukung oleh pernyataan Nurhadi, dkk. (2007) bahwa memasuki abad 21 keadaan sumber daya manusia Indonesia tidak kompetitif. Hasil survei trends in Mathematics and Sciences Study (TIMSS) tahun 1999 menempatkan Indonesia pada posisi ke-34 dari 48 negara dalam bidang matematika (Supriyoko, 2008). Hasil TIMMS tahun 2003 menempat kan indonesia pada posisi 34 dari 45 negara, dan lebih dari separuh pelajar Indonesia dikategorikan berada di bawah standar rata-rata skor Internasional (Kompas, 13 Maret 2006). Sedangkan menurut catatan Human Develompment Repot tahun 2003 versi UNDP bahwa peringkat HDI (Human Develompmen Index) bahwa kualitas sumber daya manusia Indonesia berada di urutan 112, Filipina 74, Malaysia 58, Brunai 31, Korea selatan 30, sigapura 28. Jika ditinjau dari prestasi yang dicapai oleh wakil Indonesia dalam Olimpiade Matematika Internasional dari tahun 1995 sampai tahun 2003 selalu dibawah median, misalnya pada tahun 2003 prestasi Indonesia masih berada pada urutan 37 dari 82 Negara (Marpaung, 2006: 7).

Rendahnya mutu pendidikan ini mungkin karena pengajaran disajikan masih dalam bentuk yang kurang menarik, sehingga terkesan angker, sulit, dan menakutkan sehingga siswa sering tidak menguasai konsep dasar yang terkandung dalam materi pelajaran matematika yang dapat mengakibatkan kesalahan fatal terhadap keberhasilan belajar siswa sehingga hasil belajar siswa menjadi rendah. Hasil olympiade matematika SMU tingkat nasional menunjukkan bahwa bidang studi matematika cenderung rendah dibandingkan dengan bidang studi lainnya. Hal ini disebabkan oleh lemahnya pemahaman konsep dasar matematika siswa dan siswa belum bisa memahami formulasi, generalisasi, dan konteks kehidupan nyata dengan ilmu matematika. Bahkan diperoleh keterangan 80% dari peserta memiliki penguasaan konsep dasar matematika yang sangat lemah (Yahya dalam Situmorang A.S, 2006). Bahkan tentang nilai ujian akhir nasional (UAN) bidang studi matematika yang cenderung rendah dibandingkan dengan bidang studi lainnya sudah sering dikemukakan oleh tokoh-tokoh pendidikan baik dalam media massa maupun dalam penelitian. Namun bukan hanya dari UAN yang menunjukkan bahwa nilai bidang studi matematika cenderung rendah dibandingkan dengan bidang studi lainnya.

Rendahnya hasil belajar matematika disebabkan oleh penguasaan konsep dasar matematika yang sangat lemah terus berkelanjutan sampai ke tingkat perguruan tinggi, salah satu contoh adalah penelitian pada mahasiswa FKIP Fisika Universitas Darma Agung Medan mata kuliah Matematika Dasar di semester I khususnya bahan ajar fungsi ditemukan rendahnya pemahaman konsep. Contohnya, ketika mahasiswa disuruh untuk menyelidiki apakah suatu relasi f : R ® R didefinisikan dengan f(x) = x – 1 merupakan suatu fungsi atau tidak? mahasiswa menyatakan bahwa relasi tersebut merupakan suatu fungsi tetapi ketika ditanya apa alasannya mereka tidak bisa menjawab.

Jika mahasiswa memiliki pemahaman konsep fungsi, mahasiswa akan menjawab bahwa relasi tersebut merupakan fungasi sesuai dengan definisi:

Suatu fungsi f dari himpunan A ke himpunan B adalah suatu relasi yang memasangkan setiap elemen dari himpunan A dengan tepat satu anggota dari himpunan B.

Dinotasikan dengan:

f : A ® B « ("xÎA)($ y!ÎB) ' f(x) = y

sehingga, suatu relasi f : R ® R didefinisikan dengan f(x) = x – 1 merupakan suatu fungsi karena "xÎR! $ yÎR.

Kesalahan yang sama juga terjadi, ketika ditanyakan apakah suatu pemetaan:

f : [-5,5] ® [-5,5] didefinisikan dengan x2 + y2 = 25 merupakan fungsi atau tidak? Mahasiswa menyatakan pemetaan tersebut merupakan suatu fungsi juga.

Kalau ditinjau sesuai dengan definisi fungsi yaitu:

Misalkan S = [-5,5] dan T = [-5,5] adalah himpunan.

Karena Fungsi merupakan himpunan bagian dari dimana setiap anggota S mempunyai kawan tunggal di T didefinisikan sebagai:

dimana :

S disebut daerah asal / domain

T disebut daerah kawan / kodomain

Himpunan semua nilai fungsi disebut daerah hasil (range)

Ternyata untuk suatu relasi f : [-5,5] ® [-5,5] didefinisikan dengan

x2 + y2 = 25

($ x = 3 Î [-5,5]) ' 32 + y2 = 25 Þ y1,2 = ± 4 dimana y1 = 4 Î[-5,5] tetapi y2 = -4 Ï[-5,5]

\ hal ini bertentangan dengan

\ f : [-5,5] ® [-5,5] didefinisikan dengan x2 + y2 = 25 bukan fungsi.

Kesalahan seperti ini sering terjadi pada mahasiswa semester I di FKIP-UDA, dimana kesalahan ini disebabkan karena mahasiswa semester I pada awalnya belum menguasai betul konsep fungsi tersebut. Tapi begitu mahasiswa diberikan penekanan konsep dasar dan pengertian fungsi yang sebenarnya, mahasiswa telah mampu menyelesaikan masalah yang dihadapi pada materi fungsi dengan kriteri: (1) mahasiswa yang dapat menguasai konsep dengan penekanan konsep dasar menggunakan pembelajaran konvensional sekitar 60%; (2) mahasiswa yang dapat menguasai konsep dengan penekanan konsep dasar menggunakan media petakonsep 75% (Situmorang, A. S., 2007).

Beberapa hal yang diduga juga sebagai penyebab kurangnya penguasaan konsep materi matematika adalah (1) siswa sering belajar dengan cara mengahafal tanpa membentuk pengertian terhadap materi yang dipelajari. Hal ini akan menyebabkan rendahnya aktivitas siswa dalam belajar untuk menemukan sendiri konsep materi sehingga akan lebih cepat lupa.; (2) materi pelajaran yang diajarkan memiliki konsep mengambang, sehingga siswa tidak dapat menemukan kunci untuk mengerti materi yang dipelajari dan; (3) tenaga pengajar ( guru) mungkin kurang berhasil dalam menyampaikan kunci terhadap penguasaan konsep materi pelajaran yang sedang diajarkan, sehingga siswa tidak tertarik dalam belajar dan akan menimbulkan rendahnya kreativitas dan penguasana konsep materi (Lynch dan waters, 1980, Nakhleh, 1992, 1994).

Dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikan, maka diperlukan berbagai terobosan, baik dalam pengembangan kurikulum, inovasi pembelajaran, dan pemenuhan sarana dan prasarana pendidikan agar siswa tertarik dan tertantang untuk belajar dalam menemukan konsep dasar suatu ilmu berdasarkan hipotesis sendiri, sementara guru hanya memfasilitas dan mengarahkan jalannya pembelajaran. Proses belajar seperti ini akan lebih berkesan dan bermakna sehingga konsep dasar dari ilmu ini tidak akan cepat hilang. Agar pembelajaran lebih optimal, model pembelajaran dan media pembelajaran harus efektif dan selektif sesuai dengan pokok bahasan yang diajarkan di dalam meningkatkan prestasi belajar siswa. Disamping itu guru juga ikut memegang peranan penting dalam peningkatan kualitas siswa dalam belajar matematika dan guru harus benar-benar memperhatikan, memikirkan dan sekaligus merencakan proses belajar mengajar yang menarik bagi siswa, agar siswa berminat dan semangat belajar dan mau terlibat dalam proses belajar mengajar, sehingga pengajaran tersebut menjadi efektif (Slameto, 1987).

Untuk dapat mengajar dengan efektif seorang guru harus mampu menggunakan metode, sementara metode dan sumber itu terdiri atas media dan sumber pengajaran (Suryosubroto 2002:44-47). Di samping itu, seorang pendidik dalam mengajar pada proses belajar mengajar hendaknya menguasai bahan ajaran dan memahami teori-teori belajar yang telah dikemukakan oleh para ahli, sehingga belajar matematika itu bermakna bagi sisiwa sebab menguasai matematika yang akan diajarkan merupakan syarat esensial bagi guru matematika karena penguasaan materi belum cukup untuk membawa peserta didik berpartisipasi secara intelektual (Hudojo dalam Situmorang A.S, 2006). Di sisi lain, seorang pendidik dalam mengajar pada proses belajar mengajar hendaknya menguasai bahan ajar dan memahami teori-teori belajar maupun pendekatan mengajar yang telah dikembangkan oleh para ahli, sehingga belajar matematika itu bermakna bagi siswa sebab menguasai konsep matematika yang diajarkan merupakan syarat esensial bagi guru matematika karena penguasaan materi belum cukup untuk membawa peserta didik berprestasi secara intelektual (Hudojo, dalam Situmorang A.S., 2006).

Sementara itu konsep dapat dipahami melalui hubungan antara interaksinya dengan konsep lain, karena dalam proses belajar matematika, prinsip belajar harus terlebih dahulu dipilih, sehingga sewaktu mempelajari metematika dapat berlangsung dengan lancar, misalnya mempelajari konsep B yang mendasarkan pada konsep A, seseorang perlu memahami lebih dahulu konsep A. Tanpa memahami konsep A, tidak mungkin orang itu memahami konsep B. Ini berarti mempelajari matematika haruslah bertahap dan berurutan serta mendasarkan pada pengalaman belajar yang lalu (Hudojo, 1988:7).

Dalam menjelaskan konsep baru atau membuat kaitan antara materi yang telah dikuasai siswa dengan bahan yang disajikan dalam pelajaran matematika, akan membuat siswa siap mental untuk memasuki persolan-persoalan yang akan dibicarakan dan juga dapat meningkatkan minat dan prestasi siswa terhadap materi pelajaran matematika. Sehubungan dengan hal diatas, kegiatan belajar-mengajar matematika yang terputus-putus dapat mengganggu proses belajar-mengajar ini berarti proses belajar matematika akan terjadi dengan lancar bila belajar itu sendiri dilakukan secara kontiniu (Hudojo, 1988). Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa seseorang akan lebih mudah untuk mempelajari sesuatu apabila belajar didasari pada apa yang telah diketahui sebelumnya karena dalam mempelajari materi matematika yang baru, pengalaman sebelumnya akan mempengaruhi kelancaran proses belajar matematika.

Pada dasarnya untuk mengembangkan penguasaan konsep yang baik dibutuhkan komitmen siswa dalam memilih belajar sebagai suatu yang bermakna, lebih dari hanaya menghafal, yaitu memebutuhkan kemauan siswa mencari hubungan konseptual antara pengetahuan yang dimiliki dengan yang sedang dipelajari di dalam kelas. Salah satu cara yang dapat mendorong siswa untuk belajar secara bermakna adalah dengan penggunaan model pencapaian konsep. Pada prinsipnya model pembelajaran pencapaian konsep adalah suatu model mengajar yang menggunakan data untuk mengajarkan konsep kepada siswa, dimana guru mengawali pengajaran dengan menyajikan data atau contoh, kemudian guru meminta siswa untuk mengamati data tersebut. Model ini membantu siswa pada semua usia dalam memahami tentang konsep dan latihan pengujian hipotesis. Model pencapaian konsep ini banyak menggunakan contoh dan non contoh. Ada tiga cara yang dapat dilakukan oleh guru dalam membimbing aktifitas siswa yaitu: (a) Guru mendorong siswa untuk menyatakan pemikiran mereka dalam bentuk hipotesa, bukan dalam bentuk observasi ;(b) Guru menuntun jalan pikiran siswa ketika mereka menetapkan apakah suatu hipotesis diterima atau tidak; (c) Guru meminta siswa untuk menjelaskan mengapa mereka menerima atau menolak suatu hipotesis. Dahar (1989:132) menyatakan bahwa Belajar akan mempunyai kebermaknaan yang tinggi dengan menjelaskan hubungan antara konsep-konsep.

Untuk melihat apakah model pencapaian konsep efektif digunakan dalam pembelajaran matematika untuk meningkatkan pemahaman konsep matematika siswa, khususnya pada materi Pangkat Rasional, Bentuk Akar, dan Logaritma di kelas X SMA, maka perlu diadakan suatu penelitian “Efektivitas Model Pencaian Konsep Meningkatkan Pemahaman Konsep dan Kreativitas Siswa di SMU Negeri 1 Batang Kuis.

B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang masalah yang di atas, dapat diidentifikasi beberapa permasalahan sebagai berikut :

1. Prestasi belajar matematika siswa masih rendah.

2. Banyak siswa belum memahami konsep dasar matematika.

3. Proses belajar masih bersifat konvensional, sehingga proses belajar mengajar tidak bermakna dan kurang berkesan bagi siswa, karena kemampuan guru mengelola pembelajaran belum sesuai harapan.

4. Siswa tidak tertantang mencari sendiri konsep matematika dan lebih cenderung pakum dan menerima bulat-bulat apa yang disampaikan oleh guru sehingga mudah lupa.

5. Aktivitas serta kreativitas siswa dalam proses belajar mengajar, khususnya pada materi matematika tidak nampak.

6. Respon siswa terhadap matematika masih rendah.

C. Batasan Masalah

Berbagai masalah yang teridentifikasi di atas merupakan masalah yang cukup luas dan kompleks, serta cakupan materi matematika yang sangat banyak. Agar penelitian ini lebih fokus, maka masalah yang akan diteliti apada penelitian ini fokus pada:

1. efektivitas model pencapaian konsep meningkatkan pemahaman konsep dan kreativitas siswa pada materi pangkat rasional, bentuk akar, dan logaritma di kelas X SMA Negeri-1 Batang Kuis.

2. Penelitian ini menggunakan media petakonsep sebagai pengantar untuk setiap sub pokok bahasan sebagaimana tertera pada buku siswa dan buku guru. Sehingga media yang digunakan dalam penelitian ini adalah petakonsep, buku guru (BG), buku siswa (BS), dan lembar kerja siswa (LKS)

3. Untuk menyesuaikan model pembelajaran dan media yang yang digunakan maka metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode ceramah, metode penemuan, dan metode diskusi.

D. Rumusan Masalah

Berdasarkan batasan masalah di atas, yang menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:

1. Apakah model pencapaian konsep efektif meningkatkan pemahaman konsep dan kreativitas siswa ? pada materi pangkat rasional, bentuk akar, dan logaritma

2. Apakah pemahaman konsep dan kreativitas siswa yang mengikuti pembelajaran menggunakan model pencapaian konsep lebih baik dari pemahaman konsep dan kreativitas siswa yang mengikuti pembelajaran konvensional?

Sesuai dengan rumusan masalah, beberapa pertanyaan penelitian yang akan dijawab dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Bagaimana tingkat kemampuan guru mengelola pembelajaran dalam menerapkan pembelajaran model pencapaian konsep?

2. Bagaimana kadar aktivitas siswa dalam pembelajaran Model pencapaian konsep memenuhi kriteria pencapaian efektivitas?

3. Bagaimana respon siswa terhadap komponen dan kegiatan pembelajaran Model Pencapaian Konsep?

4. Apakah pemahaman konsep dan kreativitasa siswa dengan pembelajaran Model Pencapaian Konsep memenuhi kriteria ketuntasan belajar?

5. Apakah pemahaman konsep dan kreativitas siswa yang mengikuti pembelajaran Model Pencapaian Konsep lebih baik dari pemahaman konsep dan kreativitas siswa yang mengikuti pembelajaran konvensional?

E. Tujuan Penelitian.

. Sesuai dengan rumusan masalah dan pertanyaan penelitian di atas, yang menjadi tujuan penelitian ini adalah:

1. Mendeskripsikan kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran Model Pencapaian Konsep.

2. Mendeskripsikan kadar aktivitas siswa dalam pembelajaran Model Pencapaian Konsep.

3. Mendeskripsikan respon siswa tehadap komponen dan kegiatan pembelajaran Model Pencapaian Konsep.

4. Mengetahui pemahaman konsep dan kreativitas siswa dengan pembelajaran Model Pencapaian Konsep memenuhi kriteria ketuntasan belajar.

5. Mengetahui apakah hasil belajar siswa yang belajar dengan pembelajaran Model Pencapaian Konsep lebih baik dari hasil belajar siswa dengan pembelajaran konvensional.

F. Manfaat Penelitian.

Dengan tercapainya tujuan penelitian di atas dapat diperoleh manfaat penelitian sebagai berikut:

1. Apabila pembelajaran Model Pencapaian Konsep dalam penelitian ini berpengaruh positif terhadap hasil belajar siswa, maka pembelajaran model pencapaian konsep dapat dijadikan sebagai alternatif salah satu strategi untuk meningkatkan kualitas pembelajaran matematika, dan secara khusus memperbaiki hasil belajar matematika siswa.

2. Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan acuan bagi guru-guru SMA dalam pembelajaran jika menggunakan pembelajaran model pencapaian konsep serta dapat berguna bagi pengembang kurikulum matematika SMA.

3. Sebagai sumber informasi bagi sekolah perlunya merancang sistem pembelajaran model pencapaian konsep sebagai upaya mengatasi kesulitan belajar siswa guna meningkatkan hasil belajar matematika siswa.

G. Asumsi dan Keterbatasan

Dalam penelitian ini diasumsikan bahwa siswa yang menjadi subjek penelitian adalah sungguh-sungguh dalam menyelesaikan tes hasil belajar, mengisi angket respon siswa. Guru dalam mengelola pembelajaran model pencapaian konsep adalah sungguh-sungguh melaksanakan pembelajaran. Dalam pembelajaran model pencapaian konsep dengan pokok bahasan bangun ruang sisi datar, penulis hanya menyajikan perangkat pembelajaran, yaitu rencana pelaksanaan pembelajaran, buku guru, buku siswa, lembar aktivitas siswa. Sedangkan perangkat-perangkat yang lain seperti remedial, pengayaan, dan penuntun belajar lainnya tidak disajikan dalam penelitaian ini. Banyak faktor yang mempengaruhi hasil belajar siswa. Dalam penelitian ini, peneliti hanya dapat mengontrol aspek kemampuan awal siswa yang diuji sebelum materi pembelajaran diberikan. Dengan demikian hal ini merupakan keterbatasan peneliti.

H. Defenisi Operasional

Untuk menghindari adanya perbedaan penafsiran, perlu adanya penjelasan dari beberapa istilah yang digunakan dalam penelitian ini. Beberapa konsep dan istilah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Pemahaman konsep adalah suatu Pemahaman yang dilandasi oleh pengetahuan tentang mengapa konsep tertentu digunakan dalam memecahkan suatu masalah, serta sejauh mana siswa dapat menyelesaikan soal – soal dengan menggunakan konsep yang ben.

2. Pembelajaran model pencapaian konsep suatu model mengajar yang menggunakan data untuk mengajarkan konsep kepada siswa, dimana guru mengawali pengajaran dengan menyajikan data atau contoh, kemudian guru meminta siswa untuk mengamati data tersebut. Model ini membantu siswa pada semua usia dalam memahami tentang konsep dan latihan pengujian hipotesis. Model pencapaian konsep ini banyak menggunakan contoh dan non contoh.

3. Metode ceramah adala suatu metode yang bersifat penerangan dan penuturan yang dibrikan oleh guru secara lisan kepada siswa dimana dalam menyampakan penerangan dan penuturan tersebut guru dapat menggunakan alat bantu dan media sementara siswa mendengarkan dengan teliti apa yang disampaikan oleh guru serta mencatat pokok-pokok penting yang dikemukakan olehguru (Surachmad dalam Suryosubroto, 2002:165).

4. Metode diskusi adalah suatu cara penyajian bahan pelajaran dimana guru memberi kesempatan kepada siswa untuk mengadakan perbincangan ilmiah guna mengumpulkan pendapat, membuat kesimpulan, dan menyusun berbagai alternatif pemecahan masalah dimana perbincangan tersebut berupa kelompok-kelompok siswa(Suryosubroto, 2002:179).

5. Metode penemuan adalah suatu metode mengajar yang mementingkan pengajaran perseorangan, manipulasi objek, dan lain-lain percobaan, sebelum sampai kepada generalisasi. Sebelum siswa sadar akan pengertian, guru tidak menjelaskan dengan kata-kata.

6. Dalam penelitian ini kreativitas dimasudkan sebagai kemampuan siswa untuk menyelesaikan masalah matematika dengan membuat model matematika menurut ide mereka dan cara penyelesaian yang relatif baru, siswa selalu berusaha menyelesaikan masalah matematika. Kemampuan siswa untuk menemukan alternatif jawaban lain dari permasalahan matematika juga mepukan ciri kreativitas siswa.

7. Pembelajaran konvensional yang dimaksud adalah suatu pola pembelajaran yang biasa diterapkan dilapangan yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran dan menggunakan buku paket, LKS yang disarankan untuk dimiliki.

8. Media Petakonsep adalah hubungan yang bermakna antar konsep-konsep dalam bentuk proposisi-proposisi. Proposisi merupakan dua atau lebih konsep yang dihubungkan dengan kata-kata dalam unit semantik

9. Keefektifan pembelajaran adalah seberapa besar apa yang telah direncanakan dapat tercapai setelah selesai pembelajaran. Keefektifan pembelajaran ini ditentukan berdasarkan pencapaian ketuntasan belajar siswa secara klasikal, pencapaian efektivitas aktivitas siswa, pencapaian efektivitas kemampuan guru mengelola pembelajaran, respon siswa terhadap pembelajaran.

10. Rencana pembelajaran adalah suatu pedoman bagi guru dalam mengoperasionalkan proses pembelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran atau kompetensi yang diharapkan secara efektif dan efisisen. Dengan sistim pendukung antara lain, Buku Guru (BG), Buku Siswa (BS), Lembar Kegiatan Siswa (LKS).

11. Aktivitas siswa adalah keterlibatan siswa dan guru, siswa dan siswa dalam pembelajaran model pencapaian konsep yang diukur dengan instrumen lembar pengamatan aktivitas siswa. Kadar aktivitas siswa adalah seberapa besar persentase waktu yang digunakan oleh siswa untuk melakukan setiap indikator/kategori aktivitas siswa.

12. Respon siswa terhadap kegiatan pembelajaran adalah pendapat senang/tidak senang dan baru/tidak baru terhadap komponen pembelajaran yang dikembangkan, kesediaan siswa mengikuti pembelajaran model pencapaian konsep pada kegiatan pembelajaran berikutnya, serta komentar siswa terhadap penampilan guru dalam pembelajaran. Respon siswa diukur dengan menggunakan instrumen respon siswa terhadap kegiatan pembelajaran.

13. Kemampuan guru mengelola pembelajaran model pencapaian konsep adalah ketrampilan guru dalam melaksanakan setiap tahap-tahap pembelajaran yang diukur melalui lembar pengamatan pembelajaran model pencapaian konsep.

14. Hasil belajar adalah penguasaan atau daya serap siswa melalui pemecahan masalah terhadap materi ajar bangun ruang sisi datar.

untuk mengetahui lebih lanjut, silahkan klik alamat dibawah ini.

https://sites.google.com/site/tesisadi1/download

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar